24 October 2013

Cara Agar Anak Tumbuh Tinggi

Jika tak cukup asupan zat gizi mikro, anak berisiko bertubuh pendek. Ketika belajar makan, anak-anak kerap melancarkan gerakan tutup mulut. Ada kalanya pula, mereka menjadi sangat pemilih. Apa daya yang bisa bunda perbuat untuk mengakali keadaan?

Dr Saptawati Bardosono MSc berpendapat, anak tak boleh dibiarkan terlalu lama menolak makanan tertentu, terlebih jika itu adalah sumber gizi yang penting. Jika tak ada upaya untuk menggugah selera makannya, anak bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan asupan gizi bagi pertumbuhannya. "Anak yang menolak sayuran dan buah, contohnya, bisa berisiko mengalami stunting (pendek) dan terhambat pencapaian kognitifnya."

Sayuran dan buah merupakan pemasok zat gizi mikro bagi tubuh. Mikronutrien termasuk golongan vitamin dan mineral, seperti zat besi, seng, kalsium, dan vitamin B kompleks. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan masih banyaknya anak Indonesia berusia satu hingga empat tahun mengalami anemia karena kekurangan zat besi. Jumlah mereka 27,7 persen dari total anak Indonesia. Kekurangan zat besi membuat pertumbuhan dan pencapaian kognitif mereka tidak optimal. "Untuk itu, bagi bayi sangat dianjurkan pemberian sirup zat besi dengan dosis yang tepat," ujar Saptawati.

Bagaimana cara mendeteksi kemungkinan terjadinya stunting? Bersama tenaga kesehatan, bunda perlu mengamati tinggi dan berat badan serta kondisi kesehatan anak secara berkala. Dari situ, orang tua akan mendapatkan solusi permasalahan makan anandanya. Jika bobot balita yang menolak mengonsumsi sayur dan buah masih termasuk normal, ibu cukup mengubah pola makannya. Lengkapi menu makannya dengan makanan yang mengandung mikronutriennya. Akan tetapi, kalau terjadi penurunan berat badan, segera konsultasikan ke dokter anak.

Sumber: Republika
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Lifestyle - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz